Saturday, February 9, 2013

PERENCANAAN JALAN

Clearing Trase Jalan
Jaringan jalan raya yang merupakan prasarana transportasi darat memegang peranan yang sangat penting dalam sektor perhubungan terutama untuk kesinambungan distribusi barang dan jasa. Keberadaan jalan raya sangat diperlukan untuk menunjang laju pertumbuhan ekonomi seiring dengan meningkatnya kebutuhan sarana transportasi yang dapat menjangkau daerah-daerah terpencil yang merupakan sentra produksi pertanian dan lainnya.
Perkembangan kapasitas maupun kwantitas kendaraan yang menghubungkan kota antar propinsi merupakan hal pendorong untuk pembangunan ruas jalan baru maupun peningkatan yang diperlukan sehubungan dengan penambahan kapasitas jalan raya, tentu akan memerlukan metode efektif dalam perancangan maupun perencanaan agar diperoleh hasil yang terbaik dan ekonomis, tetapi memenuhi unsur keselelamatan pengguna jalan.

Galian Trase Jalan

TAHAPAN PERENCANAAN TEKNIK

Tahapan kegiatan perencanaan teknik ada beberapa tahap :
1.  Pekerjaan Lapangan, meliputi semua survey yang diperlukan
     a.  Persiapan
     b.  Mobilisasi
     c.  Survey Route dan Pengumpulan Data
     d.  Pemilihan Route Alternatif
     e.  Route yang dipilih
     f.  Survey Detail Topografi, Hydrologi, Geoteknik & Material
     g.  Penyiapan Peta Planimetris, yang merupakan peta hasil survey topografi yang diperlukan sebagai peta dasar perencanaan geometrik.
2.  Tahap Analisis Data
     a.  Pemrosesan Data 
     b.  Penggambaran
     c.  Pengujian Laboratorium
3.  Tahapan Perencanaan Geometrik , meliputi klasifikasi jalan, karakteristik lalu lintas, kondisi lapangan pertimbangan ekonomi, dan lainnya
     a.  Jarak pandang
     b.  Perencanaan alignement horizontal dan vertikal


Cut & Fill 
4.  Geoteknik dan Material Jalan
     a.  Pengelolaan Data Geoteknik dan Material untuk keperluan konstruksi perkerasan
     b.  Drainase Jalan
5.  Perencanaan Perkerasan Jalan
     a.  Perkerasan Kaku
     b.  Perkerasan Lentur
6.  Drainase Jalan
     a.  Analisis Hydrologi
     b.  Sistem dan Bangunan Drainase
     c.  Kebutuhan Material dan sistem drainase bawah permukaan (subdrain)
7.  Bangunan Pelengkap Jalan
     a.  Tembok Penahan Tanah
     b.  Rambu Laulintas, Guardraill, dll
8.  Perkiraan Biaya meliputi :
     a.  Perhitungan Kuantitas    
     b.  Analisa Harga Satuan
     c.  Dokument Pelelangan (tahap ke fisik)

Thursday, January 31, 2013

KEGIATAN JASA KONSTRUKSI



PT. Istaka Karya : Jembatan Plaga - Bali
Sudah beberapa tahun bekerja di bidang Jasa Konstrusksi pengen mengingat kembali beberapa hal penting dalam kegiatan jasa konstruksi tersebut, berdasarkan pengalaman, belajar dan referensi lainnya untuk memudahkan dan mempertajam dalam pengelolaannya.  Kegiatan pokok perusahaan Industri Jasa Konstruksi (Kontraktor) dimulai dari kegiatan pemasaran yang terdiri dari serangkaian kegiatan fungsional, mencari informasi baik di mass media atau dari klien atau mitra kerja, melakukan presentasi/promosi, mengikiti prakualifikasi tender, mendapatkan dokumen tender, mempelajsri dokumen tender, mengikuti rapat penjelasan baik dikantor dan peninjauan ke lapangan lokasi proyek (aan wijzing), menyusun rincian pekerjaan (work breakdown structure/WBS), mempelajari spesifikasi bahan, membuat perhitungan volume dan harga satuan pekerjaan berdasarkan WBS dan informasi yand didapat, menyusun metode konstruksi, menyusun jadwal kebutuhan sumber daya peralatan konstruksi yang akan dipakai, menyususn jadwal atau schedule bahan dan sebagainya, hingga dapat harga penawaran yang kompetitif dan realistik yang akhirnya kita dapat memenangkan tender dan mendapatkan SPK atau kontrak pekerjaan.
PT. Istaka Karya : Jembatan Barelang
Bidang kontraktor merupakan bisnis yang tidak mudah dijalankan, bahkan merupakan bisnis yang beresiko. Karena disamping menuntut kemampuan teknis juga diperlukan kemampuan manajerial yang tinggi untuk mengelola sumberdaya alat, bahan, manusia serta sumber daya cash flow hingga menjadi wujud konstruksi sesuai dengan gambar, mengikuti mutu dan waktu yang dipersyaratkan dalam kontrak.

Kembali setelah mendapatkan SPK atau penunjukan sebagai pemenang maka kegiatan pelaksanaan proyek barulah dimulai. Menyusun organisasi proyek berikut pengisisan personalia yang cakap dan pengalaman (key person), gambar design dan spesifikasi mulai dijabarkan dalam gambar yang lebih detail (shop drawing) untuk pelaksanaan proyek dan menyusun jadwal urutan kegiatan proyek (construction planning) yang menyangkut kegiatan :


1. Menyusun metode konstruksi yang praktis dan Ekonomis 
     -  Item pekerjaan yang dominan dan pekerjaan khusus
     -  Cara kerja/urutan pelaksanaan pekerjaan
     -  Dukungan perhitungan teknis 
     -  Batasan batasan yang terkait dengan lingkungan (termasuk jam kerja)
     -  Cara penanganan material khusus (instruksi kerja spesifik)
2. Menetapkan sasaran usaha proyek, yaitu menyelesaikan pekerjaan yang disyaratkan dalam kontrak tetapi masih menghasilkan laba dan meningkatkan performance perusahaan.
3. Membuat Master AnggaranPelaksanaan Pekerjaan (MAPP) dan APP  :
    -  Rekapitulasi 1 sesuai dengan Kode Akuntasi
    -  Rekapitulasi 2 sesuai Kontrak
    -  Rekapitulasi Rencana Anggaran Biaya dan semua macam pekerjaan
    -  Perincian dan Analisis Biaya Pekerjaan 
    -  Perincian Biaya Peralatan
    -  Persiapan dan Penyelesaian
    -  Biaya Administrasi Proyek
    -  Biaya Rupa-rupa
    -  Biaya Bank
    -  Termasuk mengantisipasi kondisi-kondisi khusus bila ada
4. Menyusun jadwal pelaksanaan pekerjaan (schedule) yang mencakup :
    -  Uraian pekerjaan sampai detail (dapat dijabarkan sampai program mingguan)
    -  Volume dan bobot dalam % tiap kegiatan
    -  Bar chart tiap kegiatan dengan angka-angka bobot atau volume yang harus dicapai dalam target  mingguan/satuan waktu
    -  Baris paling bawah penjumlahan rencana vs progres
    -  Digambarkan kurva S rencana dan realisasi
5. Menyususn network planning 
    -  Jadwal berbagai kegiatan yang saling terkait dan berurutan, digambarkan berupa jaringan kerja
    -  Jaringan kerja menggambarkan hubungan antara kegiatan yang satu dengan yang lain, secara lengkap berupa suatu jaringan
6. Menyusun jadwal kebutuhan sumber daya alat
    -  Jumlah, jenis, type dan kapasitas alat yang diperlukan
    -  Asal peralatan (misal  : sewa, beli, milik sendiri)
    -  Kondisi peralatan
7. Menyusun kebutuhan sumber daya  manusia
    -  Tenaga inti sesuai struktur organisasi
    -  Tenaga kerja sesuai kebutuhan (waktu, jumlah dan kualifikasi)
8.  Menyusun jadwal kebutuhan bahan / material
    -  Material spesifik/khusus
    -  Material lokal dan material import
    -  Jadwal penunjukan subkontraktor dan pemasok utama (suplier)
    -  Jadwal pengiriman dan penggunaanya 
    -  Kebutuhan volume yang diperlukan
    -  Kewenangan pengadaan bahan 
9.  Perencanaan cash flow proyek
    -  Rencana pengeluaran dan penerimaan dana kerja diproyek
    -  Dimulai dari rencana penerimaan setelah dikurangi pajak (PPN, PPH, kewajiban proyek)
    -  Rencana pembebanan tiap minggu atau bulan
    -  Selisih penerimaan dan pembebanan (saldo)
    -  Sumber dana kerja (pinjaman bank, dll)
    -  Pengendalian pinjaman ditambah dengan bunga bank
    -  Rencana pembiayaan pelaksanaan proyek s/d selesai (remaining work) dan saldo akhir 
    -  Monitoring margin proyek dengan mengevaluasi cash flow secara periodik
10. Menyusun Rencana K3
      -  Pembuatan safety plan (rencana K3)
      -  Pelaporan ke depnaker (bila disyaratkan)
      -  Wajib lapor ketenagakerjaan (bila disyaratkan)
      -  Identifikasi sumber bahaya, resiko dan upaya pencegahan
      -  Ijin kerja lembur
      -  Pendaftaran ke Astek
      -  Pembentukan unit K3 proyek (bila disyaratkan)
        


Thursday, January 17, 2013

KALENDERING PEMANCANGAN

Skala pipa & pemancangan
Secara umum kalendering digunakan pada pekerjaan pemancangan tiang pancang (beton maupun pipa baja) untuk mengetahui daya dukung tanah secara empiris melalui perhitungan yang dihasilkan oleh proses pemukulan alat pancang. Alat pancang disini bisa berupa diesel hammer maupun hydraulic hammer. Biasanya kalendering dalam proses pemancangan tiang pancang merupakan item wajib yang harus dilaksanakan dan menjadikan laporan untuk proyek. Sebagai tambahan selain kalendering dilakukan pengecekan dengan PDA test. Perhitungan kalendering menghasilkan output yang berupa daya dukung tanah dalam Ton. 
Sebelum dilaksanakan kalendering basanya juga dilakukan monitoring pemukulan saat pemancangan yaitu untuk mengetahui jumlah pukulan tiap meter dan total sebagai salah satu benuk data yang dilampirkan beserta hitungan kalendering. Untuk itu sebelumnya tiang pancang yang akan dipancang diberikan skala terlebih dahulu tiap meternya menggunakan penanda misalnya cat semprot / philox. Untuk mengitungnya disediakanterlebih dahulu counter agar mudah dalam menghitung jumlah pukulan tiap meter dan totalnya.
Sebenarnya metode pelaksanaan kalendering hanyalah sederhana. Alat yang disediakan cukup spidol, kertas milimeterblock, selotip, dan kayu pengarah spidol agar selalu pada posisinya. Alat tersebut biasanya juga telah disediakan oleh subkon pancang. Dan pelaksanannya pun merupakan bagian dari kontrak pemancangan. Pelaksanaanya dilakukan pada saat 10 pukulan terakhir. Kapan saat dilaksanakan kalendering adalah saat hampir mendekati top pile yang disyaratkan, Final Set 3 cm untuk 10 pukulan terakhir, atau bisa dilihat dari data bore log. Sebenarnya ada beberapa faktor lain tergantung kondisi dilapangan.

Tahapan pelaksanaanya yaitu :  
1.  Saat kalendering telah ditentukan dihentikan pemukulannya oleh hammer
2.  Memasang kertas millimeter block pada tiang pancang menggunakan selotip
3. Menyiapkan spidol yang ditumpu pada kayu, kemudian menempelkan ujung spidol pada kertas millimeter
4.  Menjalankan pemukulan / pemancangan
5. Satu orang melakukan kalendering dan satu orang mengawasi serta menghitung jumlah pukulan (bantuan counter).
6. Setelah 10 pukulan kertas millimeter diambil 
7. Tahap ini bisa dilakukan 2-3kali agar memperoleh grafik yang bagus
8. Usahakan kertas bersih, karena kalau menggunakan diesel hammer biasanya kena oli dan grafiknya jadi kurang valid karena tertutup oli.
9. Setelah tahapan selesai hasil kalendering ditanda tangani kontraktor, pengawas, dan direksi lapangan untuk selanjutnya dihitung daya dukungnya


Ploting kalendering
Metode pelaksanaan kalendering ini telah dilaksanakan pada proyek yang pernah saya laksanakan, data grafik dan perhitungan (bersambung..)

Referensi : Teknik konstruksi 

BANJIR JAKARTA

Bendungan Katulampa 
Bundaran HI
Hujan sepanjang hari di DKI Jakarta mengakibatkan banjir pada daerah /jalur strategis : Tamrin, Bundaran HI, bahkan sampai Istana Negara Tanah Abang, Kampung Melayu dan masih banyak daerah lainnya. Alhamdulillah mess dan kantor di daerah pondok pinang Jakarta Selatan, masih dalam kondisi aman. Aktivitas dikantor hari ini banyak memantau/melihat dari media televisi/internet perkembangan banjir di DKI Jakarta, yang diberitakan mulai pukul 06.00 WIB sampai menulis ini media masa memantau lokasi-lokasi rawan banjir. Mudahan tidak terjadi bencana besar dan tidak ada korban manusia. Sebuah PR bagi aparat pemerintah untuk saling bekerjasama menuntaskan permasalahan yang setiap tahun muncul di DKI. Kedepan mungkin diperlukan pendidikan moral sejak dini mulai tingkat dasar untuk menjaga kebersihan lingkungan minimal disekitar kita tinggal, sedangkan terkait kondisi alam dan lokasi sepanjang DAS Ciliwung dan Pesanggrahan diperlukan program brilian dari pakar-pakar peneliti, perencana konstruksi, tata kota dan aparat pemerintahan  saling kolaborasi untuk konsentrasi pada paket-paket pekerjaan penanggulangan banjir, dan kemacetan. Dua permasalahan khusus secara bertahap yang harus dituntaskan. Selamat berjuang membenahi DKI Jakarta.. Good Luck..!!


Ada yang action di jalan Tamrin

Berenang dijalan. Enggano










Pengalaman pribadi sedikit narsis  :

Korban Banjir 2007 jalan kaki
Korban Banjir ada yang pikul dokumen (Sam Dendy
Sam Jack, Sam Saiful)
Selesai ada meeting di kantor pusat di kawasan Blok-M Jakarta Selatan, akan kembali ke Surabaya berempat : Agus Setiawan, Syaiful Anam, Dendy Suharyoko, Yudi Jack Priono. Perjalanan berangkat dari Blok-M menuju Bandara Sukarno Hatta, sampai di daerah kapuk jalan tol macet total, ternyata banjir (belum ada Tol Sediatmo), akhirnya setelah sidang paripurna berempat diputuskan naik kereta api dari gambir. Taxi keluar tol dan putar arah menuju gambir via tol gate ancol. Setelah keluar tol ternyata lokasi sepanjang jalan gunung sahari banjir, transportasi lumpuh total. Selanjutnya sidang paripurna lagi berempat diputuskan naik bajaj.. Hee..hee..hee.. satu bajaj berdua Alhamdulillah.. bajaj melalui jalan garuda untuk menghindari banjir di gunung sahari. setelah melewati rel kereta api ternyata tidak bisa dilalui juga.. Ampun....Ampun..???? dan langsung di ketok palu tanpa sidang jalan kaki sampai ke stasiun gambir.. sampai digambir celana yang basah 50 % sampai mengering.....ha.ha..haaa.. Sesampai di gambir kita nikmati minuman dingai dan snack sambil menunggu jadwal keberangkatan Kereta Api Argo Anggrek Jakarta - Surabaya pukul : 18.00 WIB. Setelah beberapa saat sampai di gambir mendadak Sam Dendy dapat telp dari kantor pusat agar kembali lagi mempersiapkan meeting /presentasi dengan pihak owner besok paginya di jakarta, karena tugas dan loyalitas pada perusahaan Sam Dendy akhirnya kembali lagi ke kantor, sekitar pukul 17.30 WIB bertiga naik ke lantai 2 stasiun gambir persiapan berangkat.

Sampai di Gambir melepas lelah (Sam Dendy, Sam Jack & AgoesS)


 Siap berangkat dengan Sam Syaiful.. Yessss..!!
Alhamdulillah....perjalanan selama 12 jam selamat sampai tempat tujuan Surabaya. (Exciting Experience)



Tuesday, January 15, 2013

JENIS PIPA INDUSTRI

Piping atau pemipaan adalah pekerjaan yang akan selalu ditemukan dalam sebuah proyek - proyek  sipil, migas dan fasilitas industri, dll.

Material Pipa
Secara umum, pipa dapat diartikan sebagai suatu benda yang relatif panjang, memiliki lubang dan berfungsi untuk memindahkan sebuah zat ataupun materi yang memiliki karakteristik dapat mengalir. Materi tersebut dapat berupa cairan, gas, uap, zat padat yang dilelehkan ataupun butiran yang sangat halus.
Bahan penyusun pipa yang digunakan pun sangat beragam dan tergantung kebutuhannya, mulai dari beton, kaca, timah, kuningan, tembaga, plastik, alumunium, baja tuang, baja karbon, dan baja alloy. Penggunaan material tersebut sangat tergantung pada peruntukan pemipaan, karena setiap material memiliki keunggulan dan kelemahannya sendiri. Namun karena pembahasan kali ini lebih ke arah pemipaan migas dan industri, maka bahan penyusun pipa yang paling banyak digunakan adalah baja karbon (carbon steel).

Proses pembuatan
Secara umum, ada 3 metode pembuatan pipa baja karbon, dimana juga metode tersebut menjadi nama untuk menyebutkan jenis pipa-pipa tersebut,(carbon steel) yang digunakan untuk bidang migas dan industri. ketiga metode itu adalah metode Seamless pipe, butt-welded pipe, dan spiral welded pipe.


3 Jenis pipa baja karbon

Seamless Pipe
Seamless pipe dalam arti bahasa artinya pipa tanpa sambungan. Dalam praktek pembuatannya, seamless pipe memang merupakan pipa yang dibentuk tanpa membuat sambungan sama sekali, sehingga tidak ada bagian dari pipa yang pernah terganggu atau berubah materialnya akibat panas pengelasan. Pipa ini dibuat dari baja silinder pejal, yang dilubangi dalam kondisi hampir meleleh, biasa disebut billet.


Ilustrasi pembuatan seamless pipe


manufaktur seamless pipe di pabrik.

Pada gambar tersebut, ditunjukkan sebuah besi pejal (billet) di apit dan di roll oleh Sizing rolls –merupakan roller pembentuk diameter luar- dan dilubangi oleh mandrel.
Dengan metode pembuatan tanpa join tersebut, pipa yang dihasilkan dapat lebih baik karena kualitas baja yang dihasilkan adalah hampir sama pada setiap area permukaan pipa. Selain itu, ketebalan dengan menggunakan metode ini, pipa yang memiliki ketebalan berapapun memungkinkan untuk diproduksi.
 
Butt-welded Pipe atau Straight welded pipe
Atau disebut juga sebagai pipa UOE. bahan baku pembuatan pipa ini adalah pelat baja dengan bentuk profil strip. Pelat baja tersebut dibentuk menjadi pipa dengan melengkungkan pipa tersebut kearah sumbu pendeknya dengan roll pembentuk (shaper roll) sehingga membentuk pipa sebuah pipa. Celah pertemuan kedua sisi pelat strip tersebut kemudian di las memanjang sehingga membentuk sebuah pipa tanpa celah. Detail pembuatan butt-welded pipe ditunjukkan pada gambar dibawah.



metode fabrikasi pipa straight welded pipe


pipa straight welded

Pipa ini memiliki keunggulan dimana kualitas dari dinding pipa sangat mudah untuk dikontrol dan memiliki ketebalan yang seragam. Hal ini disebabkan karena pipa ini berasal dari pelat strip yang pembuatannya relative sangat mudah untuk dikontrol kualitas dan ketebalan pelatnya, sehingga hasil saat dibuat menjadi pipa pun relative sama baiknya dengan kualitas pelatnya sebelum jadi. Selain itu, apabila dibutuhkan pipa menerus yang cukup panjang, pipa ini memiliki keunggulan karena mudah untuk difabrikasi.
Namun didalam industri migas, pipa jenis ini lebih sering ditemukan dalam bentuk elbow. Pipa jenis ini dihindari sebagai pipa panjang karena memilik kelemahan pada sambungan las kedua tepi pelat strip pada saat pembuatannya, dimana memerlukan inspeksi pada area pengelasannya, memanjang sepanjang pipa tersebut.

Spiral Welded Pipe
Dalam pasaran Indonesia biasa disebut pipa spiral, ada juga yang menyebutnya pipa casing. Meskipun namanya demikian, bukan berarti pipa ini berbentuk spiral, namun lebih merujuk kepada bahan baku pembuatannya yang merupakan pelat baja strip yang dibentuk menjadi spiral dan kemudian disambung sehingga membentuk sebuah pipa.


skema pembuatan pipa spiral



 manufaktur spiral pipe

Dalam system perpipaan, jenis pipa ini sangat dibatasi penggunaannya hanya untuk kebutuhan pipa dengan tekanan rendah karena ketipisannya. Bahkan dalam industri migas, pipa ini tidak digunakan dalam system pipa bertekanan, kebanyakan hanya digunakan sebagai casing untuk pondasi, atau pun sebagai pipe support. Keuntungan pipa ini adalah dapat dibuat menjadi sangat besar dengan mudah. Namun pipa ini memiliki kelemahan dimana ketebalan untuk dapat membuat spiral cukup terbatas, sehingga pipa ini relative tipis. Selain itu, jumlah sambungan yang cukup banyak per satuan panjangnya membuat inspeksi pengelasan menjadi lebih banyak -jauh lebih banyak dari pada straight welded pipe- apabila akan digunakan sebagai pipa bertekanan. (frz)

Referensi : Fachreza Akbar

Penggunaan Spiral Welded Pipe 

Penempatan (space) Steel Pipe
Pemancangan Pipa Spiral

Jenis pipa ini banyak digunakan pada pekerjaan proyek-proyek  sipil ; jembatan, pelabuhan/dermaga, dan gedung. Pada proyek-proyek yang menerapkan spesifikasi teknis tinggi, perlu diperhatikan dalam mobilisasi, apalagi jika melalui beberapa kali handling misalnya dari via laut dilanjutkan via darat untuk menuju ke lokasi proyek. Diperlukan metode handling material tersebut dengan menggunakan alat lifting gear yang sesuai, mobilisasi via darat diperlukan space antar pipa di Truck Trailer untuk menghindari gesekan antar pipa (terutama pada sambungan spiral pipe). Berdasarkan pengalaman, jika terjadi cacat pada pipa (rawan korosi) maka diperlukan pekerjaan sandblasting dan coating ulang yang mengakibatkan bertambahnya cost dan waktu proyek.

Experience : AgoesS

Sunday, January 13, 2013

NILAI SLUMP BETON

nilai slump beton
Nilai slump adalah nilai yang diperoleh dari hasil uji slump dengan cara beton segar diisikan  ke dalam suatu corong baja berupa kerucut terpancung, kemudian bejana ditarik ke atas sehingga beton segar meleleh ke bawah.
Besar penurunan permukaan beton segar diukur, dan disebut nilai 'slump'. Makin besar nilai slump, maka beton segar makin encer dan ini berarti semakin mudah untuk dikerjakan.

Penetapan nilai slump dilakukan dengan mempertimbangkan faktor-faktor berikut :
  1. Cara pengangkutan adukan beton.
  2. Cara penuangan adukan beton.
  3. Cara pemadatan beton segar.
  4. Jenis struktur yang dibuat.
Cara pengangkutan adukan beton dengan aliran dalam pipa yang dipompa dengan tekanan membutuhkan nilai slump yang besar, adapun pemadatan adukan dengan alat getar (triller) dapat dilakukan dengan nilai slump yang sedikit lebih kecil.
Sebagai petunjuk awal penetapan nilai slump, dapat mengacu pada tabel penetapan nilai slump adukan beton berikut :
Pemakaian Beton (Berdasarkan jenis struktur yang dibuat)Maks (cm)Min (cm)
Dinding, Plat Pondasi dan Pondasi telapak bertulang
12,5
5,0
Pondasi telapak tidak bertulang, Caison, dan struktur di bawah tanah
9,0
2,5
Pelat, Balok, Kolom dan dinding
15,0
7,5
Pengerasan jalan
7,5
5,0
Pembetonan masal (beton massa)
7,5
2,5

PONDASI STRAUSS PILE atau BORED PILE

Pondasi strauss pile ini termasuk kategori pondasi dangkal. Pondasi jenis ini biasanya digunakan pada bangunan yang bebannya tidak terlalu berat, misalnya untuk rumah tinggal atau bangunan lain yang memiliki bentang antar kolom tidak panjang.

Pondasi strauss pile
Strauss Pile
Cara kerja pemasangan pondasi ini adalah dengan mengebor tanah berdiameter sesuai perhitungan struktur diameter pondasi. Setelah itu digunakan cassing dari pipa PVC yang di cor sambil diangkat cassing-nya. Cassing digunakan pada tanah lembek dan berair. Jika tanah keras dan tidak berair, pondasi dapat langsung di cor tanpa cassing.

Kedalaman pondasi ini dapat mencapai 5 meter dengan mengunakan besi tulangan sepanjang dalamnya pondasi. Biasanya ukuran pondasi yang sering dipakai adalah diameter 20 cm, 30 cm, dan 40 cm, sesuai dengan tersedianya mata bor. Seperti layaknya pondasi tiang, maka pondasi strauss ini ditumpu pada dudukan beton (pile cap). Fungsi dudukan beton adalah mengikatkan tulangan pondasi pada kolom dan sloof. Selain itu fungsinya adalah untuk transfer tekanan beban di atasnya.


Untuk pondasi bored pile, system kerjanya hampir sama dengan pondasi strauss pile. Perbedaannya hanya terletak pada peralatan bor, peralatan cor, dan system cassing yang menggunakan teknologi lebih modern. Pondasi ini digunakan untuk jenis pondasi dalam dan di atas 2 lantai.

Pondasi bored pile

Kelebihan :

  • Volume betonnya sedikit
  • Biayanya relative murah
  • Ujung pondasi bisa bertumpu pada tanah keras 

Kekurangan :

  • Diperlukan peralatan bor
  • Pelaksanaan pemasangannya relative agak susah.
  • Pelaksanaan yang kurang bagus dapat menyebabkan pondasi keropos, karena unsur semen larut oleh air tanah.

Sumber : Blog Belajar Civil

Tuesday, January 8, 2013

PEKERJAAN JALAN & JEMBATAN


Stone Crusher Produksi Batu Pecah
Mobilisasi Peralatan dan Lokasi Quary
Pelaksanaan Pekerjaan Peningkatan Jalan di Pasarwajo dan Jembatan Wasaga Kab. Buton Sulawesi Tenggara. Lokasi Quarry lokal berada di sungai wakoko jarak 5 km , bukit kombeli 12 km dan karya baru 30 km dari base camp Stone Crusher dan AMP. Dalam pelaksanaan pekerjaan diperlukan material hasil crushing sebanyak 8.910 M3. Hal ini harus diperhitungkan dalam metode pelaksanaan, kapasitas produkasi, waktu pelaksanaan terkait dengan biaya pelaksanaan proyek, Mobilisasi peralatan berat dengan menggunakan Kapal LCT  500 Ton antara lain  :
1.   Aspalt Mixing Plant (AMP), 1 Unit
2.   Stone Cruser (Kap. 60 TPH), 1 Unit
3.   Wheel Loader (Kap. 3 M3), 1 Unit
4.   Dimpt Truck Tronton (Kap. 20 Ton), 10 Unit
5.   Motor Grader, 1 Unit
6.   Aspalt Finisher, 1 Unit
7.   Vibro Roller / Tandem Roller (Kap. 10 Ton), 2 Unit
8.   Pnematic Tire Roller, 1 Unit
9.   Mobil Crane, 1 Unit
10. Dtruck Trailler, 1 (Unit)
11.  Crawler Crane, 1 (Unit)
12.  Excavator Kap. 1.2 M3 ( 3 Unit)
13.  Peralatan bantu : Mini Roller, Stamper, Cutter Machine,WM.Miller, Acetiline, Oksigen, dll

Material Suplisi & Marger Item 
Loading Material Batu Pecah
Mobilisasi Material dengan menggunakan Tongkang Kap. 230 Feet dan Tug Boat 1500 DWT dari Palu sampai ke lokasi di Pasarwajo - Buton memerlukan waktu sekitar 1 minggu dengan jarak tempuh sekitar 600 Mlie, melalui pesisir pantai barat pulau Sulawesi ke arah Tenggara.
Jembatan Wasaga
Pengalaman saya untuk mengejar target produksi pelaksanaan pekerjaan adalah suplisi dari material luar. Dalam hal ini suplisi material batu pecah dari Palu Sulawesi Tengah. Hal ini dilakukan untuk bisa mengawali pelaksanaan pekerjaan pengaspalan sambil menunggu proses mobilisasi peralatan berat dan erection AMP dan Stone CrusherPelaksanaan Paket pekerjaan ini  dengan marger item pekerjaan AC-WC dan HRS-WC dengan jumlah total 18.500 Ton.
HRS-WC
Pekerjaan Struktur lainnya adalah Pembangunan Jembatan Wasaga struktur Beton dengan menggunakan pipa baja Diameter 406 mm, tebal 12 mm panjang 6 m, 10 titik pancang. Mutu beton Abutmen dan Plat K-250, dan pada Girder dan Slab K-350, 



















Saturday, January 5, 2013

INFORMASI SIPIL

Guna mendapatkan informasi / referensi dan pengetahuan tentang Pengadaan Barang & Jasa,  pekerjaan sipil lainnya dapat diakses blog :

Catatan Mas_Trianto

Friday, January 4, 2013

PROSES LELANG / TENDER

Suatu Proyek Konstruksi yang akan dibangun akan dibuka proses lelang / tender, dimana pengumumannya akan diumumkan melalui internet, koran, ataupun rekanan dari owner dan media lainnya. Proses lelang proyek konstruksi terdiri dari :

1.  Pengambilan Dokumen Lelang
Pengambilan dokumen lelang harus diteliti kebenarannya dan kelengkapannya dengan merinci dalam tanda terima dokumen lelang, hal ini penting agar dapat dijadikan sebagai dokumen kontrol pada proses internal perusahaan.

2.   Pembentukan Team Pelaksana Lelang (TPL)
Pembentukan Tim Pelaksana Lelang sesuai dengan kebutuhan SDM yang memiliki kopetensi sesuai dengan ketrampilan untuk melakukan kegiatan estimasi biaya sesuai dengan persyaratan yang berlaku.

3.   Membaca dan Mempelajari Dokumen Lelang
Dalam proses ini merupakan kegiatan penting dalam upaya mempelajari dan memahami dokumen proyek sehingga dapat dibuat catatan-catatan penting yang perlu dikonfirmasikan saat mengikuti penjelasan / aanwijzing kantor atau lapangan berkaitan dengan dokumen-dokumen sbb :
1.   Bill of Quantity (BQ)
2.   Technical Spesification (Spek Teknis)
3.   Drawing (Gambar)
4.   Aggrement, General & Spesial Condition of Contract (Surat Perjanjian, Spesifikasi Umum &    Khusus)
5.   Attachement (Lampiran)
6.   Addendum
7.   Peraturan Terkait

4.   Aanwijzing Kantor & Lapangan
Mengikuti kegiatan aanwijzing merupakan kegiatan penting untuk mendapatkan kejelasan terhadap hal-hal sebagai berikut  :
1.   Kelengkapan Dokumen yang perlu dipenuhi
2.   Konfirmasi hal-hal yang belum jelas agar ada persamaan presepsi dengan pihak panitia / owner
3.   Usulan-usulan perubahan terhadap spesifikasi, waktu pelaksanaan sehingga proyek dapat dikerjakan        dengan baik dan tepat waktu
4.   Memahami secara akurat kondisi lapangan yang akan dibangun, yang berkaitan dengan  :
     a.   Kondisi lingkungan proyek (sosial budaya, medan kerja, dan lainnya)
     b.   Akses jalan masuk area proyek
     c.   Kelayakan jalan logistik dan upaya maintenance/memperbaikinya
     d.   Keamanan lokasi
     e.   Kondisi Tanah, dll


5.   Mempelajari Lebih Mendalam Dokumen Lelang
Kegiatan dalam proses ini adalah mendalami lebih rinci berkaitan dengan hal-hal sebagai berikut :
1.   Kesesuaian BQ dengan gambar, spesifikasi dan dokumen lainnya
2.   Identifikasi lingkup pekerjaan (batasan-batasan dalam paket pekerjaan/proyek)
Kegiatan ini dilakukan dengan melalui work breakdown struktur (WBS) sehingga secara akurat dapat    diketahui batasan lingkup pekerjaan yang ada dalam setiap paket proyek yang terkait dengan  :
a.   Rincian Bill of Quantity (BQ) / WBS (Paket pekerjaan)
b.   Perhitungan volume pekerjaan
c.   Gambar Detail / Sketsa
d.   Dokumen untuk pengadaan subkontraktor dan supplier.
WBS adalah pedoman pengelompokan dari unsur-unsur proyek yang mengatur dan menetapkan lingkup totak dari proyek. Pekerjaan diluar WBS adalah diluar lingkup proyek, seperti halnya scope statement WBS sering kali dipergunakan untuk mengembangkan dan menjelaskan pengertian umum dari lingkup proyek.


6.   Survey Lapangan Detail
Kegiatan ini merupakan kegiatan survey secara mandalam dokumen lelang seperti diuraikan dalam point 5. Hasil survey ini akan dipergunakan sebagai referensi metode pelaksanaan pekerjaan, merencanakan site plan, mengetahui pekerjaan-pekerjaan penunjang yang diperlukan seperti jembatan sementara, bangunan bantu lainnya, perbaikan jalan akses dll. dalam survey ini dapat jg untuk mengklarifikasi data-data teknis seperti penyelidikan tanah, komposisi material di quarry, keberadaan sumberdaya lainnya, seperti alat, tenaga kerja, material, bahan material alam termasuk biaya untuk mendapatkan sumber daya tersebut (upah tenaga, harga satuan, dll)


7.   Perhitungan Volume
Kegiatan ini untuk melakukan perhitungan dan pengecekkan perhitungan volume pekerjaan terhadap volume scope yang ada dalam BQ dan diperlukan perhitungan volume pekerjaan yang merupakan pekerjaan penunjang seperti jembatan darurat, jalan akses, dll.
Perhitungan volume ini harus dilakukan secara cermat, akurat dan tertelusur sesuai dengan WBS yang direncanakan sehingga tidak terjadi kesalahan kurang perhitungan atau duplikasi perhitungan. Apabila ada perubahan gambar / spesifikasi maka dengan mudah dapat ditelusuri dengan mudah perhitungan mana yang diperlukan koreksi/pemyesuaian perhitungan ulang atas perubahan tersebut.
Bila perhitungan volume ini dihitung oleh banyak personil harus dapat diidentifikasi siapa melakukan perhitungan, pekerjaan apa sesuai gambar/spesifikasi yang mana sehingga saat dikonsolidasi dapat dikompilasi dengan akurat.

8.   Metode Pekerjaan
Merupakan kegiatan perumusan metode pelaksanaan pekerjaan dengan urutan sbb :
1.   Definisi pekerjaan  :
      a.   Penjelasan tentang pekerjaan
      b.   Spesifikasi dan volume pekerjaan
2.   Lokasi
3.   Metode pekerjaan / Cara kerja
      b.   Bagaimana caranya
      c.   Menggunakan alat apa
      d.   Urutan pekerjaan (dimulai sesudah/setelah pekerjaan apa)
4.   Kebutuhan sumber daya
5.   Waktu yang diperlukan
6.   Jadwal pelaksanaan
7.   Hal-hal penting yang harus diketahui / diperhatikan
8.   Gambar-gambar kerja/pelaksanaan
9.   Pekerjaan yang dibuat secara detail metode kerjanya adalah yang memiliki kriteria sbb :
     a.   Pekerjaan yang memiliki bobot besar 80 % sesuai dengan bobot pareto
     b.  Pekerjaan yang masuk lintasan kritis, sesuai hasil network planing

9.   Subkontraktor
Pemilihan pekerjaan yang disubkontraktorkan dilakukan dalam rangka memenuhi kriteria sbb  :
1.   Meningkatkan fokus perusahaan
2.   Mempercepat keuntungan yang diperoleh dari engineering
3.   Membagi resiko
4.   Sumber daya sendiri dapat dipergunakan untuk kebutuhan lain
5.   Memungkinkan tersedianya dana kapital
6.   Menciptakan dana segar
7.   Mengurangi dan mengendalikan dana operasional
8.   Memperoleh sumberdaya yang tidak dimiliki sendiri
9.   Memecahkan masalah yang sulit dikendalikan / dikelola
Pemilihan subkontraktor/suplier dilakukan dengan sangat selektif agar tujuan diatas dapat dipenuhi dan pengendalian dokumen terhadap pekerjaan yang dikerjakan oleh pihak ketiga merupakan hal yang sangat perlu diperhatikan, karena kesalahan informasi / dokumen akan membuat kesalahan dalam menentukan asumsi, sumber daya dan harga pekerjaan.
Kegiatan dalam proses procurement pada proses tender meliputi  :
a.   Pekerjaan yang akan disubkontrakkan /renvana pembelian, perencanaan kontrak dan pembayaran.
b.   Pemilian vendor yang akan dinominasikan
c.   Permintaan penawaran
d.   Evaluasi penawaran termasuk lingkup yang sesuai dengan paket pekerjaan
e.   Penentuan vendor yang akan dipilih sehingga dokumen dari vendor yang akan dipakai terdokumentasi dengan baik

10.   Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
Proses yang dibutuhkan untuk mengelola dan memastikan bahwa aktivitas proyek kontruksi yang ditangani dengan benar sebagai bentuk tindakan pencegahan terhadap kemungkinan timbulnya kecelakaan secara ringan (menyebabkan luka-luka ringan atau parah yang masih dapat disembuhkan tanpa cacat) maupun yang berat (menyebabkan cacat atau meninggal dunia) yang akan terjadi baik terhadap karyawan / properti yang ada sehingga dengan demikian proses-proses yang dapat dilakukan adalah :
a.   Perencanaan K3 (Safety Plan)
b.   Penanganan K3
c.   Pelaksanaan administrasi dan pelaporan

11.   Pembuatan Pra Rencana Mutu Proyek
Yang utama dalam kegiatan ini adalah melakukan hal-hal sebagai berikut  :
1.   Memahami spesifikasi setiap pekerjaan dan material yang dipergunakan
2.   Memahami persyaratan mutu yang bersesuaian dengan yang sudah ditetapkan dalam spesifikasi          berkaitan dengan upaya untuk melakukan pemilihan material dan metode yang memenuhi syarat
3.   Dokumen atas persyaratan yang dipilih menjadi dokumen kontrol dan didukung oleh data-data yang dapat dipertanggungjawabkan

12.   Plafon Harga Penawaran 
Plafon harga penawaran yang didasarkan pada Owner Estimate (OE) merupakan referensi tetapi tidak menjadi patokan, melainnkan untuk melakukan evaluasi terhadap harga yang dibentuk dari perhitungan RAB dan keuntungan proyek.

13.   Proses Komputer
Merupakan perhitungan dengan menggunakan komputer dan program yang dapat diandalkan penelusurannya sehingga setiap ada perubahan formulanya terkait satu sama lainnya. File perhitungan dapat menjamin mana data / file yang dipakai dan direvisi sehingga mudah ditelusuri bila menggunakan alternatif- alternatif RAP/RAB.

14.   Jaminan Bank, Referensi Bank dan Syarat Administrasinya
Hasil perhitungan RAP/RAB draft dapat dipakai sebagai acuan untuk menentukan besaran jaminan pelaksanaan proyek sebagai administrasi yang harus dipenuhi dan dilampirkan dalam penawaran /bid. Pengurusan jaminan ini harus memenuhi ketentuan bank dan persyaratan dalam administrasi lelang, karena dapat menggugurkan penawaran. Pada saat final penawaran besaran jaminan ini di check kembali apakah sudah sesuai dengan ketentuan / persyaratan lelang yang berlaku.

15.   Perhitungan Markup
Perhitungan markup harus didasarkan pada beban-beban yang harus dipenuhi yang menjadi ketentuan kantor pusat, cabang dan proyek dan termasuk biaoya pemasaran, serta keuntungan bersih yang direncanakan. Markup harus sudah memperhitungkan terhadap resiko kenaikan harga, dan resiko lainnya yang diperhitungkan dalam merespon resiko.

16.   Penyususn, pengecekkan dan Pemasukan Penawaran
Tahapan yang penting dalam penyusunan dokumen penawaran pemenuhan dokumen dan lampiran yang diperlukan dalam setiap dokumen harus mengikuti peraturan yang berlaku dan menjadi persyaratan administrasi. Pengendalian dan kesesuaian dokumen perlu dilakukan dengan adanya bukti pengecekkan berupa check list yang ditandatangani oleh team leader sebagai bukti telah dilakukan control baik isi dokumen dan kelengkapannya.

17.    Laporan Hasil Lelang / Tender
Laporan ini dibuat dalam rangka melakukan evaluasi terhadap hasil tender dan alasan-alasan terukur yang menjadi penyebab dan kegagalan dan serta kekuatan yang menjadi unggulan dalam persaingan, hal ini dapat menjadi pembelajaran pada lelang/tender yang akan datang.

Just to Remember..